Negeriku…. Najib (Dibawakan pada Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas)
Satu persatu pencakar langit berdiri, lengkap dengan taman dan patung – patung kebesaran. Burung-burung diusir, pohon-pohon digantikan tiang listrik dan tiang telepon, rumput-rumput berganti aspal. Kijang, jerapah, rusa berganti menjadi mobil. Demi para investor, pribumi menyingkir. Anak kotaku kusam, bajunya dekil, ditemani debu dan lalat. Dipinggirkan oleh jalan diberikan zat racun kendaraan mewah membunuhnya pelan., agar tidak ada lagi pengemis agar tidak ada lagi warga miskin kota.
Jend. Sudirman : Dahulu nyawaku demi harga diri bangsa ini akan ku korbankan. Aku tidak mau ada setitik noda kolonialisme menempel di merah putih. Jika ada, aku orang yang paling dulu menembaknya. Sekarang… Penerusku mengemis, demi nama investor asing rakyat dibebankan hutang. Disantuni BLT, BOS setelah dimiskinkan. Hehehe. Sungguh biadab. Mengemis dengan IMF untuk Investor Sedang pendidikan .. hehehe nanti dulu.. Rasanya merah putih telah diinjak-ijak, disobek-sobek dan dijadikan pembersih mobil-mobil mewah…
Patung Selamat Datang A + B : Selamat Datang ………
Patung Selamat Datang A : Selamat datang Ivestor, pengusaha, konglomerat, Orang Asing Kami sambut dengan senyum
Patung Selamat Datang B : Pencari Kerja, Warga Miskin, Pedagang Kami Lima kami harap menyingkir.
Patung Selamat Datang B : Kini aku mulai enggan tersenyum, rakyat miskin hanya merusak tata kota saja, pedagang kaki lima hanya memacetkan mobil-mobil yang lewat saja. Jika dilihat orang luar, kan malu. Pribumi nanti dulu. Hehehe. Yang penting tuan senang.
Patung Pemuda : Saya simbol kegagahan pemuda, yang selalu membawa bangsa kepada perubahan. Garuda akulah tulang punggungnya. Semangatku seluas nusantara, naluriku setajam pedang, idealismeku kokoh bagai karang. Tak gentar diterjang ombak perubahan zaman. Tapi kini, Punggung berubah menjadi dengkul, semangat berubah menjadi putus harapan mencari kerja, idealisme bagai buih di laut. Terombang ambing, terseret perahu nelayan tanpa tahu tujuan…
Patung bersama : Kami sekarang murung, murung melihat angin yang tak lagi sejuk, wajah tak lagi senyum, burung – burung pun muak dan kemudian pergi. Semoga harapan itu masih ada.
Beginilah jadinya… Negeri yang katanya kaya, Gemah ripah loh jinawi. Tega menyingkirkan masa depannya. Bahkan tega membebaninya dengan hutang. Aku sudah teriak. Tapi telinganya tetap tidak mendengar. Ingin rasanya menendang sekeras-kerasnya agar mereka terbangun dari tidur. Ingin rasanya menampar, kala mereka tersenyum sedang rakyat terinjak.
Generasiku lebih suka bermain gitar sambil memegang rokok.
Berjingkrang-jingkarak penuh kehura-huraan.
Atau sibuk membaca buku sampai lupa pengemis di depan rumahnya
Atau lupa listrik tetangganya yang terputus.
Apalagi harta rakyatnya yang dirampok.
Tuhan…..
Aku tak tahu ini datang dari mana
Semua seperti buta. Enggan memberi nasi sisa untuk saudaranya
Senang tetangganya menjadi bangkai.
Aku tahu harapan itu masih ada
Dan Aku tahu aku harus merubahnya
Kalau saja hari ini matahari dan bulan Kau redupkan
Tentu tidak sulit bagiMu memancarkannya kembali.
Dengan rahmat yang kau janjikan kami meminta
Jadikan umat yang bagai pasir di atas batu ini menjadi kokoh
Dengan selalu melampiaskan rindu kami memohon
Koyakkan dunia dengan Ridho-Mu